• Danau Sentarum

    Danau Sentarum merupakan danau yang dikelilingi hutan basah yang berada tepat dijantung belantara hutan Kalimantan dan merupakan danau terbesar di Kalimantan...

  • Hutan Hujan

    Hutan hujan adalah salah satu karakteristik beberapa bagian hutan di belantara Kalimantan yang beriklim tropis dan sub tropis...

  • Iklim tropis dan sub tropis

    Sebagian besar wilayah Kalimantan memiliki dua iklim yaitu iklim tropis dan sub tropis yang membuat wilayah Kalimantan memiliki rata-rata curah hujan dari sedang hingga tinggi...

  • Kultur Budaya

    Kalimantan memiliki kultur budaya yang sangat unik salah satunya kultur dan budaya yang berasal dari suku dan etnis Dayak yang memiliki Populasi terbesar yang tersebar di seluruh daerah di Kalimantan...

  • Flora dan Fauna

    Kalimantan memiliki berbagai macam jenis flora dan fauna mulai dari tumbuhan liar, hewan endemik hingga primata khas Kalimantan yang berjumlah ribuan spesies...

Showing posts with label Galery. Show all posts
Showing posts with label Galery. Show all posts

Sunday, April 22, 2018

Panglima Burung, Panglima Ngayau dan Panglima Abio, pejuang legendaris Dayak.


Tidak seperti penampilan orang-orang yang mengaku Panglima Dayak hari ini, Panglima Burung Mansau adalah seorang bersahaja dan pejuang Dayak Iban. Beliau berasal dari Desa Majang, Kapuas Hulu, dan lahir pada tanggal 14 November 1914. Salah satu perjuangan beliau adalah menyerbu Pontianak, untuk membalas dendam kepada Jepang atas kematian Pang Suma. Kemudian menuntut diangkatnya Sultan Pontianak untuk menghindari kekosangan kekuasaan. Dalam Buku Sultan Hamid II , Sang Perancang Lambang Negara Elang Rajawali - Garuda Pancasila, pada bagian : Surat Sultan Hamid II kepada Solichim Salam, Penjelasan tentang Sejarah Lambang Negara RIS 11 Februari 1950, disitu beliau mengungkapkan andil Panglima Burung dalam memberikan masukan membuat lambang Negara Indonesia. Panglima burung wafat pada pada tahun 2005 silam dan dimakamkan pada tanggal 27 Oktober 2005 di Taman Makam Pahlawan Pang Suma di Meliau, Kalimantan Barat.

sumberhalaman facebook Pulau Dayak
               https://www.facebook.com/photo.php
               

Sunday, April 1, 2018

SIMBOL BERSATUNYA SEMANGAT PARA LELUHUR KALIMANTAN

Simbol Bersatunya Semangat Para Leluhur Kalimantan biasanya akan muncul jika akan ada kegiatan besar atau sering juga muncul jika akan terjadi peperangan. Simbol ini muncul pada kawasan suci yang dahulunya pernah menjadi Balai atau Tempat bertemunya Para Leluhur Kalimantan yang memiliki kemampuan spiritual yang tinggi atau dengan kata lain memiliki Ilmu yang tinggi. Jika Para Leluhur Kalimantan tersebut telah tidak ada lagi di dunia, maka diyakini bahwa ruh-ruh suci Para Leluhur tersebut atau Ilmu-Ilmu yang dimiliki berkumpul pada kawasan yang muncul simbol seperti ini. Pemunculan simbol seperti ini tidak pada kawasan sembarangan, ada kawasan tertentu yang mengikuti syarat dan ketentuan dari pembentukan kawasan suci. Untuk penjelasan tentang kawasan suci tersebut akan dibahas pada postingan yang lain. Simbol ini dapat muncul dengan disengaja yaitu dibuat oleh Tetua Adat yang turun temurun mengetahui tentang simbol tersebut dari Leluhurnya. Namun simbol tersebut dapat juga muncul dengan tanpa disengaja. Untuk tanpa disengaja ini ada dua makna yaitu muncul dengan sendirinya sebagai tanda kepada anak keturunan mereka, dan dapat melalui manusia yang tanpa sadar akibat pengaruh Ruh-Ruh Suci tersebut sehingga tanpa diketahuinya membuat simbol tersebut mengikuti kemauan dari Ruh-Ruh Suci tersebut. Untuk di Kabupaten Sanggau, kemunculan simbol seperti ini merupakan tanda berkumpulnya semangat Para Leluhur Pasak Sanggau yang telah berkumpul pada kawasan tersebut, dimana kawasan itu dahulunya merupakan kawasan suci sebagai Balai atau tempat Para Leluhur Pasak Sanggau berkumpul.

sumber : Halaman Facebook Poesaka Kapoeas

Monday, March 19, 2018

sejarah kerajaan Lawai dalam peradaban suku dayak



sorotborneo

Setelah beberapa bulan menetap di Kampung Kantu’, Babay Cinga’ dan Putri Dara Nante bersama rombongannya kemudian pergi ke Labai Lawai, karena Putri Dara Nante sangat rindu ingin mengunjungi makam Ibundanya di Labai Lawai. Usai mereka berpamitan dengan Dakdudak, mereka langsung pergi ke Labai Lawai menggunakan beberapa buah dedaup dengan menyusuri Sungai Kapuas. Setelah beberapa hari mendayung dedaup, maka tibalah rombongan Babay Cinga’ di Labai Lawai. Di Labai lawai Dedaup-dedaup mereka tidak bisa langsung merapat, karena pada masa tersebut di Labai Lawai ternyata telah ditempati oleh sekelompok masyarakat setelah sekian lama ditinggalkan oleh rombongan Aji Melayu untuk melanjutkan pencarian Kerajaan Tanjung Pura. Mereka mendapat serangan dari masyarakat tersebut yang menyerang mereka dengan sumpit yang sangat membahayakan. Dengan cekatan rombongan Babay Cinga’ segera bertindak. Mereka menyusun strategi agar bisa turun ke daratan. Strategi tersebut berhasil. Babay Cinga’ dan beberapa orang termasuk Manok Sabong berhasil naik ke daratan. Perang sengit antara rombongan Babay Cinga’ dan masyarakat Labai Lawai terjadi. Setelah beberapa saat terjadi pertempuran yang sengit, masyarakat Labai Lawai ini akhirnya dapat mereka taklukkan. Masyarakat Labai Lawai ada yang menyingkir dari Labai Lawai, namun ada pula yang tunduk kepada Babay Cinga’, mereka kemudian bergabung dengan rombongan Babay Cinga’. Setelah situasi dapat mereka kendalikan, semua dedaup rombongan Babay Cinga’ dapat merapat dan mereka turun ke daratan. Dara Nante dan Babay Cinga’ langsung mengunjungi makam Ibunda Dara Nante. Sesuai permintaan Dara Nante, maka rombongan Babay Cinga’ menetap beberapa waktu di Labai Lawai. Mereka membangun pemukiman baru, namun ada juga yang menempati pemukiman milik masyarakat Labai Lawai. Belum lama rombongan Babay Cinga’ bermukim di Labai Lawai, kembali mereka diserang oleh kelompok masyarakat dari wilayah lain. Rupanya beberapa orang yang telah menyingkir dari Labai Lawai, mengumpulkan kelompok masyarakat dari wilayah lain untuk kembali merebut wilayah Labai Lawai dari rombongan Babay Cinga’. Mereka datang dengan jumlah yang lebih banyak dan pertempuran sengit kembali terjadi. Gajah Gemala Johari atau Arya Mada, anak Babay Cinga’ dan Dara Nante juga ikut berperang mempertahankan wilayah Labai Lawai. Bahkan Dara Nante yang pada masa itu sedang mengasuh Arya Batang atau Patee Gumantar juga ikut dalam pertempuran. Arya Batang pada peristiwa tersebut masih bayi, dan diamankan oleh Dara Nante dalam sebuah Jarai atau keranjang yang terbuat dari anyaman tumbuhan. Sambil memanggul Arya Batang di punggungnya, Dara Nante turun ke medan pertempuran membantu suaminya Babay Cinga’ dan pengikutnya mempertahankan Labai Lawai dari serangan musuh. Dengan senjata terhunus, Dara Nante bertempur dengan gesit dan mengalahkan musuh yang menyerang Labai Lawai. Jarai dipunggungnya yang berisi Arya Batang tidak menghambat ketangkasan geraknya dalam bertempur. Bahkan musuh yang menyerangnya dengan sumpit juga dengan lincah dihindarinya. Setelah terjadi pertempuran yang sengit, kelompok musuh yang menyerang akhirnya berhasil ditaklukkan. Namun Babay Cinga’ dan pengikutnya sangat terkejut karena ternyata jarai yang sedang dipanggul Dara Nante telah dipenuhi oleh peluru sumpit. Mereka menjadi histeris dan khawatir jika peluru-peluru sumpit yang beracun itu melukai Arya Batang yang berada di dalam jarai yang di panggul Dara Nante, dengan cepat mereka melepaskan jarai dari tubuh Dara Nante dan membukanya. Ketika membuka dan melihat ke dalam jarai, mereka menjadi sangat kaget dan terheran-heran, karena Arya Batang baik-baik saja. Peluru-peluru sumpit beracun yang terlihat menembus jarai, sedikitpun tidak melukai tubuh Arya Batang. Bahkan terlihat Arya Batang sedang bermain-main dengan mata peluru-peluru sumpit yang telah patah sambil tertawa-tawa. Peluru-peluru sumpit yang beracun itu tidak berpengaruh sedikitpun terhadap tubuh Arya Batang. Setelah melihat Arya Batang baik-baik saja, Babay cinga’ dan Dara Nante serta pengikutnya menjadi lega. Selama menetap di Labai Lawai, beberapa kali pengikut Babay cinga’ mendapatkan serangan dari kelompok masyarakat yang berasal dari wilayah lain. Bahkan beberapa kali juga kelompok perompak berusaha mengusir mereka dari Labai Lawai. Rupanya pada masa tersebut perairan di sekitar wilayah Labai Lawai telah ramai dilewati orang, dan kelompok perompak banyak yang berkeliaran di wilayah perairan itu untuk mencari mangsa, namun semua gangguan dan ancaman tersebut dapat mereka atasi dan taklukkan. Kehebatan Babay Cinga’ beserta pengikutnya ternyata mulai tersebar di sekitar wilayah perairan Labai Lawai, bahkan hingga ke pedalaman. Gangguan perompak yang sangat meresahkan masyarakat pedalaman memaksa mereka untuk mencari tempat perlindungan. Mereka pun berbondong-bondong pergi ke Labai Lawai untuk memohon perlindungan. Melihat begitu banyaknya kelompok masyarakat pedalaman yang datang untuk memohon perlindungan dan ingin bergabung sebagai pengikut, membuat Babay Cinga’ dan Dara Nante berfikir kembali jika hendak meninggalkan Labai Lawai. Selain itu datang juga masyarakat yang ternyata mengenali Babay Cinga’ sebagai Raja Nan Sarunai. Maka diputuskanlah bahwa mereka akan tetap tinggal di Labai Lawai dan akan membangun sebuah Negeri di tempat tersebut. Pada tahun 1325 Masehi, berdirilah Kerajaan Lawai dengan Babay Cinga’ sebagai rajanya yang kemudian bergelar Patee Bacinga’. Selanjutnya Patee Bacinga’ dibantu Dara Nante beserta para pengikutnya membentuk sistim pemerintahan kerajaan yang mirip dengan sistim pemerintahan di Nan Sarunai. Namun dalam sistim pemerintahan Kerajaan Lawai ini dimulai dengan nama penguasa kerajaan yang disebut Raja yang bergelar Patee. Dibawah Patee, terdapat penguasa wilayah yang bergelar Demung atau Demong dan Kiyai. Demung bertanggungjawab terhadap wilayah daratan, dan Kiyai bertanggungjawab terhadap wilayah perairan. Demung dan Kiyai membawahi Tamanggung atau Temenggung, Kanduran dan Rangga. Dalam sistim pertahanan dan keamanan yang bertanggung jawab terhadap pasukan dan prajurit kerajaan, jabatan tertinggi bergelar Cinga’ atau Singa, dan membawahi jabatan Ria, Macan dan Jaga. Anak Patee Bacinga’ yang bernama Gajah Gemala Johari atau Arya Jamban, namun dipanggil Patee Bacinga’ dengan nama Mada atau Arya Mada pada saat itu bertugas dalam jabatan Jaga, sehingga ia mendapat gelar Jaga Mada. Sedangkan pada bidang pengadilan adat dan agama, jabatan tertinggi bergelar Mangku dan membawahi beberapa jabatan yaitu Ngabeh atau Ngabehi ataupun Mas Ngabehi dan Dambung. Setelah terbentuknya sistim pemerintahan kerajaan, maka Kerajaan Lawai mulai mengembangkan diri untuk membangun Labai Lawai menjadi bandar atau pelabuhan perdagangan. Labai Lawai selanjutnya ramai dikunjungi orang dan menjadi sebuah bandar perdagangan yang sangat terkenal.

Saturday, March 17, 2018

cerita asal muasal AMJI ATTAK



Amji Attak berasal dari kampung Kapayakng, sekitar 20 km dari pasar Anjungan, yang sekarang masuk wilayah Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Amji Attak merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara. Amji Attak memulai kariernya dari Sekolah Agen tahun 1958, yang pada saat itu sudah masuk Mobrig Ranger atau Mobil Brigade Ranger. Mobrig dahulunya hanya memiliki Kompi 5994, yang memiliki makna tahun 59 dengan jumlah kesatuan 94, dan Amji Attak adalah anggota Kompi 5994 tersebut. Amji Attak adalah seorang Putra Dayak berdarah panas, yang tidak boleh melihat musuh pasti akan dikejar dan di tantangnya. Karena darah panasnya ini sehingga ia sering diturunkan ke wilayah konflik dan menjadi yang terdepan sebagai tameng pasukannya. Ketika di wilayah konflik dan terjadi baku tembak dengan musuh, ketika pasukannya yang lain sibuk bersembunyi dan berlindung, Amji Attak bukannya berlindung, ia malah mengejar arah tembakan tersebut sambil balik menembakkan senjatanya ke arah musuh, sehingga membuat musuh kocar kacir dan lari tunggang langgang. Seringkali dalam setiap bertugas, Komandannya ini menjadi kerepotan mengendalikan keberaniannya yang sangat nekad itu, karena ia tidak boleh mendengar tembakan musuh, tetap akan dikejarnya arah tembakan musuhnya tersebut, meskipun telah diperintahkan oleh Komandannya untuk berlindung. Pernah juga ketika ia mengejar musuh yang sedang gencar memberondong pasukannya, dan ia mengejar sambil balik memuntahkan peluru dari senjatanya dan peluru tersebut habis, Amji Attak bukannya berlindung, malah tetap terus mengejar dan ketika telah terlihat musuh yang memberondong tersebut langsung diserangnya dengan apa saja yang dimilikinya sehingga musuh tersebut tewas. Karena keberaniannya yang luar biasa tersebut menghantarkan pasukannya berhasil menguasai wilayah konflik. Sehingga setiap bertugas di wilayah konflik, Amji Attak selalu menjadi andalan pasukannya. Ketika terjadi Konfrontasi dengan Malaysia yang dikenal dengan “Ganyang Malaysia”, pada era pemerintahan Presiden Soekarno, pasukan Mobrig Ranger diturunkan dalam tugas tersebut. Pasukan Mobrig Ranger diturunkan dalam beberapa gelombang. Pasukan Mobrig Ranger gelombang pertama pada saat itu terdiri dari 129 orang berlayar ke Natuna. Pasukan Mobrig Ranger gelombang pertama ini diberangkatkan oleh Panglima ABRI Jenderal Ahmad Yani dari Pulau Berakit, yang sekarang namanya menjadi Batam. Ketika itu Jenderal Ahmad Yani berpesan, jika bertemu tentara dengan bekas cacar air memanjang di lengan, itu tandanya ia orang Indonesia.
Selanjutnya pada November 1964, pasukan Mobrig Ranger berlayar dari Tanjung Pinang menuju Malaysia. Dan dua perahu pasukan Mobrig Ranger berhasil masuk daratan Malaysia, namun di hutan Malaysia mereka ditangkap Patroli Inggris di Port Sehan. Kesemua anggota pasukan Mobrig Ranger yang tertangkap tersebut kemudian disidangkan di Pengadilan Kuala Lumpur, dan dimasukkan ke penjara di Johor selama 2 tahun 8 bulan.
Adapun pasukan Mobrig Ranger Amji Attak adalah Resimen Pelopor yang menyusup diam-diam ke Malaysia pada Maret 1965. Dengan tujuh perahu sekoci, mereka berangkat lewat Belakang Padang di Batam. Saat sudah dekat daratan di peisisir Malaysia, mereka mendayung. Amji Attak yang pada masa itu berpangkat Aipda dan memiliki nama sandi Muhammad ditugaskan sebagai pemimpin pasukannnya, karena ia paling diandalkan dalam mendayung perahu. Keahlian mendayungnya tersebut berasal dari tempaan alam sebagai anak Dayak di pedalaman yang dekat dengan kehidupan sungai, sehingga mendayung ini sangat mudah baginya.
Ketika pasukan Resimen Pelopor Aipda Amji Attak memasuki wilayah perairan Malaysia pada malam hari yaitu di wilayah laut China Selatan, mereka mendengar suara deru kapal besar yang mendekat. Aipda Amji Attak segera memerintahkan pasukannya untuk waspada dan menyiapkan senjata, untuk selanjutnya bergerak memanfaatkan celah diantara kapal. Aipda Amji Attak juga memberitahukan kepada anggota pasukannya bahwa yang mereka hadapi adalah kapal patroli AL Malaysia dan Kapal Perang Inggris.Tanpa gentar sedikitpun segenap anggota pasukan Aipda Amji Attak langsung mengokang senjata mereka dan melepas pengamannya. Pada saat itulah lampu kapal patroli AL Malaysia menyoroti perahu yang membawa pasukan Pelopor tersebut, yang langsung disambut dengan reaksi pasukan Pelopor dengan segera menembaki lampu sorot tersebut. Sebuah tembakan tepat mengenai seorang anggota AL Malaysia dan sesaat kemudian terjadilah kontak senjata seru ditengah laut China Selatan pada malam tersebut. Hiruk pikuk suara tembakan dari masing-masing pasukan terdengar riuh dan memekakkan telinga. Suara teriakan dan suara tubuh manusia yang tercebur ke laut ramai terdengar. Rupanya beberapa anggota Pasukan Pelopor Aipda Amji Attak dan AL Malaysia terkena tembakan. Melihat hal itu Aipda Amji Attak segera memerintahkan anak buahnya untuk menembakan pelontar granat ke arah kapal musuh.
Tembakan pertama meleset dan granat jatuh ke laut, namun tembakan kedua berakibat fatal bagi kapal patroli AL Malaysia karena tembakan pelontar granat tepat mengenai gudang amunisi kapal sehingga kapal meledak dan menimbulkan cahaya terang. Kapal patroli AL Malaysia itu mengalami kerusakan berat dan mundur dari medan pertempuran. Mundurnya patroli AL Malaysia tersebut rupanya sambil memanggil bala bantuan, karena sesaat kemudian datanglah dua lagi kapal patroli AL Malaysia dan Kapal Perang Inggris. Dengan jarak yang masih jauh sehingga memungkinkan kedua kapal tersebut menggunakan meriam untuk menghajar posisi perahu pasukan Pelopor Aipda Amji Attak. Pertempuran kedua ini berjalan tidak seimbang karena pasukan Pelopor Aipda Amji Attak yang bersenjatakan senapan ringan dan pelontar granat harus menghadapi kapal AL Malaysia dan Inggris yang bersenjatakan meriam dan senapan mesin.
Namun demikian, Aipda Amji Attak tidak memerintahkan anak buahnya untuk menyerah melainkan justru memerintahkan untuk menyerang mendekati kedua kapal tersebut. Pada saat itu Aipda Amji Attak berstrategi bahwa dalam pertempuran jarak dekat masih ada harapan bagi pasukan Pelopor yang dipimpinnya untuk selamat atau paling tidak bisa mengakibatkan kerusakan yang lebih besar bagi musuh. Selanjutnya, tembakan senapan mesin kaliber 12,7 mm dari kapal musuh segera menghantam perahu pertama dan anggota Pasukan Pelopor Aipda Amji Attak yang ada di kapal tersebut tersapu tembakan. Dua perahu lainnya masih memberikan perlawanan dengan tembakan yang sengit. Pada peristiwa tersebut, Pasukan Pelopor Amji Attak hanya bersenjatakan senjata AR 15 sehingga sulit untuk membidik musuh. Sehingga para Pasukan Pelopor hanya menggunakan nalurinya untuk menembak. Mereka hanya membidik dan menembak pada saat pelontar granat ditembakan. Namun pada jarak yang jauh pelontar granat sulit diharapkan. Akhirnya perlawanan dari dua perahu pasukan Pelopor Aipda Amji Attak ini diakhiri oleh dua buah tembakan meriam yang mengenai samping perahu. Perahu Aipda Amji Attak hancur terkena tembakan meriam dan beliau gugur di Laut China Selatan. Perlawanan sengit pasukan Pelopor Aipda Amji Attak berakhir karena hampir semua anggota Pasukan Pelopor yaitu sebanyak 33 orang gugur dalam pertempuran tersebut.
Pada tahun 1966, Kesatrian Brimob Kelapa Dua diresmikan dan nama Aipda Amji Attak diabadikan sebagai nama Kesatrian Korps Brimob Polri Kelapa Dua. Selain karena ia paling senior, juga sebagai cikal bakal Pelopor Ranger dari kompi Resimen Pelopor. Selain itu juga sebagai pahlawan Dwikora yang gugur ketika peristiwa konfrontasi Malaysia. Dimana peristiwa ini ikut andil menghantarkan Malaysia, Singapura dan Brunei merdeka. Nama Aipda Amji Attak juga diabadikan dalam bentuk patung yang berdiri gagah di gerbang Kesatrian Brimob Kelapa Dua bersama patungnya Tobaki Takuda yaitu anggota Brimob Ranger yang juga tewas dalam konfrontasi dengan Malaysia tahun 1964.

70 BUMI DALAM ILMU PERBINTANGAN BANGSA DAYAK




Tersebutlah Ranying Mahatalla Langit telah menciptakan sebuah Pohon Batang Haring atau ‘Pohon Keyakinan’ yang memiliki empat cabang. Kemudian Ranying Mahatalla Langit menciptakan Cahaya dari sebuah intan putih sehingga serupa dengan Raja Burung Tinggang bermahkota emas, intan dan permata. Kemudian Ranying Mahatalla Langit meletakkan Raja Burung Tinggang di Pohon Batang Haring tersebut. Raja Burung Tinggang tersebut mengabdi kepada Ranying Mahatalla Langit selama 70 ribu tahun lamanya. Selanjutnya dari cahaya Raja Burung Tinggang tersebut, Ranying Mahatalla Langit menciptakan Cermin Kehidupan, dan diletakkan didepan Raja Burung Tinggang. Tatkala Raja Burung Tinggang melihat ke Cermin Kehidupan, terlihatlah bentuknya yang elok dan berkilau, maka malu lah ia kepada Ranying Mahatalla Langit, sehingga bercucuran keringatnya. Permulaan keringatnya menetes enam keringat yang kemudian tercipta empat ruh suci berbentuk burung, keringat kelima tercipta bunga Mawar dan keringat keenam tercipta padi. Selanjutnya bercucuran lagi keringatnya sebanyak 70 keringat dari kakinya sehingga terciptalah 70 bumi yang bertebaran di tujuh lapis langit.

Wednesday, February 28, 2018

Penemuan Fosil Kayu Ulin yang berusia kurang lebih 2 juta tahun yang lalu di Kalimantan Timur


Baru-baru ini sebuah temuan yang sangat berharga telah menggegerkan masyarakat Kalimantan khususnya Kalimantan Timur, Bagaimana tidak menggegerkan karena telah ditemukannya sebuah Fosil yang tak ternilai harganya yaitu Fosil Kayu Ulin Berukuran Panjang 40 Meter dengan diameter 1,5 Meter. Kayu Ulin ini adalah sebuah kayu yang memliliki daya tahan yang sangat kuat dan bahkan tahan hingga ratusan tahun lamanya untuk dijadikan bahan bangunan tradisional masyarakat dayak. kayu ulin ini sendiri umumnya digunakan untuk bahan bangunan rumah panjang atau rumah betang dan juga sering dijadikan untuk bahan pembutan seni ukir pahat dalam pembuatan patung. temuan Fosil Kayu Ulin berumur 2 juta tahun ini ditemukan tepatnya di Desa Purwajaya, Kecamatan Loa Janan, Kutai Karta Negara (Kukar). temuan Fosil ini membuktikan bahwa Kalimantan adalah surganya Pohon Ulin Raksasa sekaligus daerah yang kaya akan Keanekaragaman Hayati atau sumber daya alam.

Sumber : 
Instagram @INI_KALIMANTAN.ID

Thursday, February 1, 2018

Buah Leci hutan dari hutan borneo

sorotborneo.blogspot.co.id
Buah leci hutan atau sering dikenal sebagian masyarakat dayak dengan sebutan buah empringat adalah salah satu buah yang tanamannya tumbuh liar dihutan borneo. Bentuknya yang seklias hampir mirip dengan buah leci pada umumnya menjadi salah satu alasan mengapa buah yang tumbuh liar ini disebut sebagai leci hutan. Ciri khas dari buah ini adalah tumbuhan atau tanamanya berupa akar yang merambat ditanah hingga semak-semak dan memliliki duri disetiap akar sampai tangkai buahnya. pada umunya tanaman buah leci hutan
ini banyak tumbuh dihutan rawa serta tropis, bentuk dari buah leci ini berbentuk buah kecil yang berwarna merah dan membentuk tangkai atau tandah buah kecil. Rasa dari buah ini sedikit asam dan agak manis oleh karena itu buah ini sangat digemari sebagian masyarakat untuk dikonsumsi, tidak hanya mansuia saja selain itu buah leci hutan ini juga sangat digemari burung punai untuk dimakan buahnya.

Buah Kubal Buah yang tumbuh liar dihutan buah khas hutan Kalimantan

sorotborneo.blogspot.co.id
Buah Kubal adalah salah satu jenis buah yang banyak tumbuh liar di alam hutan Kalimantan, ciri Khas dari buah ini sendiri adalah pohon-nya berbentuk akar yang menjulur serta merambat panjang ke atas dan akarnya selalu menjulur meliliti pohon yang ada disekitarnya. Umumnya Warna dari buah kubal ini berbentuk orange dan isinya juga berwarna orange ketika masak, daerah yang ditumbuhi oleh tumbuhan liar ini sebagian besar hutan tropis yang berada di wilayah Kalimantan khususnya Kalimantan barat hingga Sarawak Malaysia.
Buah kubal ini sendiri banyak digemari oleh masyarakat umunya masyarakat dayak karena rasanya yang khas dan manis. Ada beberapa jenis dari buah kubal ini sendiri antara lain adalah kubal susu dan kubal arang dalam bahasa dayak. Tumbuhan kubal ini sendiri berbuah secara musiman dan berbuah pada saat musim buah.


sumber:

Wednesday, January 31, 2018

Legenda Orang Buah Kana dalam cerita dayak mualang


Di masa itu kehidupan manusia dan para Dewa serta mahluk halus, sama seperti hubungan antara manusia yang satu dengan yang lainnya, termasuklah hubungan yang sangat akrab dan harmonis antara masyarakat Tampun Juah dengan Orang Buah Kana ( Dewa pujaan ). Karena kejayaan masyarakat Tampun Juah sangat terkenal dan didengar oleh segala bangsa dan beberapa kerajaan, di suatu ketika sampailah berita itu ke kerajaan Sukadana (terletak di Kabupaten Ketapang). Kerajaan Sukadana merasa kuatir mendengar kejayaan dan semakin kuatnya persatuan masyarakat di Tampun Juah. Hal ini mendapat tanggapan yang negatif dan ditindak lanjuti dengan menyatakan perang terhadap Masyarakat Pangau Banyau / Sak Menua, yang lambat-laun menyebabkan Tampun Juah diserang oleh kerajaan Sukadana. Kerajaan Sukadana saat itu merupakan koloni dari Kerajaan Majapahit ( jawa hindu ), mereka mempunyai bala tentara yang tangguh dan sakti dari suku Dayak Beaju”/ Miajuk, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Mereka mengadakan ekspansi militer dari daerah Labai lawai ( sekarang Tamabak Rawang) Sukadana, masuk dan menyusuri sungai kapuas sampai ke teluk air daerah batu ampar menuju Tayan Sanggau, dan masuk sungai Sekayam dan terus ke hulunya, mengadakan penyerangan ke Tampun Juah. Dalam peperangan ini laskar dari Tampun Juah dengan gigih dan gagah berani berjuang melawan pasukan musuh dalam membela kedamaian di Tampun Juah, hingga menyebabkan musuh kalah dan dapat di usir. Perang yang pertama dikenal dengan nama Perang Sumpit, karena pada perang ini pasukan Tampun Juah dan pasukan lawan menggunakan sumpit yang pelurunya sangat beracun diberi ipuh (racun dari pohon tertentu).
Tampun Juah kembali aman dan damai, tetapi tidak berlansung lama karena pihak musuh yang kalah mengajak (melalui kesaktiannya) dan memengaruhi bangsa mahluk halus ( Setan ) secara magis, menyerang Tampun Juah. Perang kedua tak bisa dihindarkan, dengan semangat yang membara masyarakat Pangau banyau, berusaha mati-matian mempertahankan wilayahnya dari serangan mahluk halus, dan akhirnya dalam peperangan ini bangsa setan dapat juga dikalahkan.
Tampun Juah untuk sementara waktu berangsur damai ternyata pihak musuh yang kalah berperang, masih belum puas, mereka berusaha menggunakan segala cara, dan dengan kesaktian yang mereka miliki, mereka memengaruhi bangsa binatang agar menyerang Tampun Juah. Peperangan yang ketiga akhirnya terjadi, sama halnya dengan peperangan terdahulunya, bangsa binatang juga dapat dikalahkan. Karena masih kurang puas maka musuh pun mencari cara yang lain lagi yakni, dengan menanam berbagai jamur beracun diladang, dan sekitar pemukiman masyarakat Tampun Juah, Hal ini menyebabkan banyak masyarakat Tampun Juah yang keracunan, tetapi keracunan ini dapat disembuhkan menggunakan akar dan tumbuhan hutan lainnya. Setelah sembuh racun kulat itu ternyata berdampak pada perubahan intonasi bahasa, logat dan pengucapan bahasa komunikasi yang menjadi bahasa keseharian. Hal ini menyebabkan timbulnya kelompok- kelompok bahasa yang berbeda logat maupun pengucapan ( ingat menara babel dalam perjanjian lama kitab suci umat kristiani ) walaupun masih dimengerti / serumpun. ( Ibanic Group ).
Melihat perpecahan bahasa tersebut, pihak musuh memandang hal ini merupakan suatu celah kelemahan dan menjadikan hal ini sebagai ide, untuk mengalahkan masyarakat Tampun Juah. Pihak musuh tahu bahwa untuk merebut dan mengalahkan Tampun Juah tidak mampu melalui perang, melainkan dengan mengotori Tampun Juah. Pada saat keracunan terjadi dimana-mana, membuat kekuatan masyarakat Tampun Juah menjadi rapuh. Hal ini tidak disia-siakan oleh bangsa setan, sekali lagi mereka mengirimkan sihirnya yakni dengan cara mengotori setiap tempat kegiatan sehari-hari, tempat tinggal dan perabotan makan dengan Tahi. Karena terus-menerus muncul dan tak kunjung selesai dalam jangka waktu yang lama, akhirnya masyarakat Tampun Juah strees, panik dan tidak tahan lagi, menyebabkan gemparlah Tampun Juah.
Menyikapi hal itu maka para temenggung berkumpul untuk memecahkan permasalahan ini. Pekat Banyau (musyawarah) dilakukan dan dari hasil pekat, (musyawarah ) diambilah keputusan untuk meninggalkan Tampun Juah secara berangsur -angsur. Proses keberangkatan dipimpin oleh masing – masing temenggung dan yang berangkat dahulu, harus membuat lujok (tunggul kayu) atau tanda pada setiap tempat yang dijalani kelompoknya, agar diikuti oleh kelompok belakangnya dengan perjanjian: “jika kelak menemukan tempat yang subur, enak dan cocok nanti, mereka berkumpul lagi dan membina kehidupan seperti masa di Tampun Juah.3 Setelah selesai bepekat (musyawarah) maka diputuskanlah siapa yang berangkat terlebih dahulu. Orang Buah Kana (Dewa Pujaan), kembali ke khayangan, selanjutnya kelompok pertama masyarakat Pangau Banyau yang berangkat adalah:

  1.  Kelompok yang kini di sebut Dayak Batang Lupar / Iban, berangkat menyusuri sungai sai, tembus ke muara sungai ketungau sampai ke Batang Lupar, Kapuas hulu. ( kisah ini dituturkan sama dan diakui oleh kelompok Dayak Iban dari Sadong, Serawak, Malaysia). Dalam pengembaraannya, dan sesudah sampai di Batang Lupar, kelompok ini kemudian terpecah dan membentuk kelompok – kelompok atau sub- sub Ibanic ( Kantuk, Undup, Gaat, Saribas, Sebuyau, Sebaruk, Skrang, Balau ) dan lain-lain yang juga menyebar dan mencari tanah dan kehidupan baru.
  2. Kelompok Ketungau. Menyusuri aliran Sungai Sai, terus masuk sungai ketungau, dan menetap disana di sepanjang sungai ketungau dan membentuk kelompok-kelompok kecil diantaranya: Bugao, Banyur, Tabun dll.
  3. Kelompok Mualang. Kelompok ini adalah kelompok yang bertahan terakhir di Tampun Juah, hal ini karena pada waktu itu kelompok ini ada pantangan pergi karena ada salah seorang yang melahirkan, setelah sekian lama kemudian kelompok ini menyusul kelompok keduanya dengan menyusuri Sungai Sai, sampai di muara sungai ketungau. Kelompok ini di pimpin oleh: Guyau Temenggung Budi, mereka membawa seorang pengawal / manok sabung / Letnan yang terkenal di zamannya bernama Mualang. Dalam perjalanannya menyusuri sungai ketungau, rombongan Guyau Temenggung Budi tersesat, hal ini dikarenakan adanya banjir yang menyebabkan tanda ( lujok ) yang dibuat pendahulunya berubah arah di terpa arus banjir, setelah sampai dimuara sungai ketungau. Hal ini menyebabkan mereka menghentikan perjalanannya untuk sekian lama. Sejalan dengan itu pengawal rombongan ( manok sabung ) bernama; Mualang meninggal dunia ditempat itu, ia dikubur disebelah kanan mudik sungai ketungau. Mualang diabadikan untuk menyebut nama anak sungai tersebut menjadi sungai Mualang dan rombongan Guyau temenggung budi mengabadikan nama kelompok yang dipimpinnya tersebut dengan nama Orang Mualang, yang berasal dari sungai Mualang dan lambat laun oleh penerusnya disebut dengan nama Dayak Mualang.
  4. Setelah berkabung, mereka memutuskan menetap di sungai Mualang untuk beberapa lama. Suatu hari ketika sedang mencari ikan menyusuri sungai Mualang, mereka menemukan sebuah lubuk ( teluk yang dalam ) yang banyak ikannya, kemudian berita gembira ini disampaikan ke segenap kelompok orang Mualang lainnya dan akhirnya mereka beramai – ramai mengambil ikan dilubuk tersebut.Setelah mendapatkan ikan yang banyak, segala dayung dan peralatan cari ikan lainnya mereka tenggelamkan dilubuk itu, dan lubuk itu mereka sebut dengan nama lubuk Sedayung. Selain mencari ikan mereka juga kerap kali berburu disekitar hutan sampai jauh masuk ke segala arah. Pada suatu ketika disaat sedang berburu, mereka (orang Mualang), menemukan pemburu lainnya yang mempunyai bahasa sama dengan rombongan orang Mualang, tetapi bukan dari rombongan maupun komunitas mereka. Orang tersebut mengaku berasal dari Tanah Tabo.” Berita ini kemudian di sampaikan kepada pimpinan orang Mualang, yakni; Guyau temenggung Budi yang akhirnya membawa seluruh orang – orang Mualang yang dipimpinnya untuk bergabung dengan masyarakat di Tanah Tabo”. Hingga dibatalkanlah rencana untuk mencari rombongan terdahulunya.
Penduduk Tanah Tabo'
Penduduk di Tanah Tabo’ merupakan keturunan dari keseka” Busong. Keseka” Busong kawin dengan Dara jantung, anak Petara Seniba (Dewa di khayangan), Dara jantung dihulurkan oleh Petara Seniba (ayahnya) menggunakan tali Tabo”Tengang (akar kayu) Bekarong Betung ( diselimuti bamboo betung ) anak dari keseka” Busong dan Dara jantung adalah Bujang Panjang, yang kawin mali ( terlarang ) dengan Dayang Kaman Dara Remia ( bibinya atau adik ibunya) di khayangan yang menyebabkan kakeknya (Petara Seniba) murka, dan mengusir bujang panjang kebumi tempat ayahnya berada yakni keseka” Busong. Anak hasil kawin mali mereka, menjadi berbagai macam hama padi dan lolos menyebar kebumi.

Sumber
https://id.wikipedia.org/



Monday, January 22, 2018

Buah Ucong atau belimbing hutan buah khas hutan Kalimantan

Buah Ucong dalam istilah bahasa dayak atau yang lebih dikenal dengan belimbing hutan dalam bahasa indonesia adalah salah satu buah hasil hutan yang tumbuh liar di Belantara hutan kalimantan, buah ini sendiri hampir mirip dengan buah belimbing pada umumnya oleh sebab itu buah ini sering disebut belimbing hutan dalam bahasa indonesia, yang membedakan-nya adalah buah ucong ini berbentuk agak kucup dan berwarna merah ketika sudah masak. Bagian dalam isi dari buah ucong ini sendiri
berwarna putih dan membentuk persegi yang terdiri lebih dari tiga sampai empat bagian biji dalam satu buah, dan rasa buah ini sangat bervariasi mulah dari yang asam, asam manis hingga sangat manis. Buah ucong ini sendiri merupakan buah yang bisa dimakan dan banyak diambil masyarakat untuk dikonsumsi, pohon ucong atau belimbing hutan ini sendiri cendrung tumbuh subur dan menyebar di hutan tropis kalimantan hingga daerah hutan sarawak malaysia.