Tuesday, March 13, 2018

Mengingat kembali tentang masyarakat suku dayak dalam perang Majang Desa yang berperang melawan penjajah di tanah Borneo


Angkatan Perang Majang Desa terbentuk tanggal 13 Mei 1944 di Embuan Kunyil Meliau, yang permulaannya dipimpin oleh Temenggung Mandi atau Pang Dandan, yaitu seorang pemuka adat Embuan Kunyil. Angkatan Perang Majang Desa dalam kepengurusan awalnya, terdiri dari sejumlah pemuka adat, seperti Temenggung Bagok, Pang Perada atau Sayang, Mohamad Natsir, Naga, Tan Sin An, Pang Peah, Panglima Burung, Abang Syahdansyah, Menera bin Dulang atau Pang Suma, Pang Linggan atau Ajun, Agustinus Timbang, Naga, Gompang dan Pang Lapen. Angkatan Perang Majang Desa terbentuk sebagai respon perlawanan terhadap kekejaman penjajahan Jepang. Kerja paksa terjadi di mana-mana, pemerkosaan, kekejaman dan perampokan terdengar di setiap saat. Kekejaman Jepang bermula dengan dipekerjakannya secara paksa masyarakat Kalimantan Barat di Petikah yaitu daerah Hulu Sungai Bunut Kapuas Hulu, masuk Sungai Mentebah. Mereka dipekerjakan sebagai kuli untuk menggali dan mengumpulkan batu tungau yang berwarna merah dari dalam tanah dan bebatuan di pertambangan Batu Tungau. Di Petikah ini terdapat tujuh lokasi pertambangan, yaitu Petikah I, Petikah II, Petikah III, Petikah IV, Petikah V yang lokasinya di Saksara dan terdapat sumber air panasnya, Petikah VI yang lokasinya masuk Sungai Kenarin dan Petikah VII yang lokasinya di Pasinduk cabang Sungai Kenarin. Jumlah pekerja di setiap lokasi pertambangan sekitar 10.000 orang. Sehingga jumlah pekerja di pertambangan batu tungau itu seluruhnya berjumlah sekitar 70.000 orang. Para pekerja itu bukan berasal dari daerah Kapuas Hulu, melainkan dari daerah pantai dan hilir, seperti dari daerah Sambas, Singkawang, Toho, Sanggau, Sekayam, Jangkang, Sekadau, Sintang dan Melawi. Semua pekerja di pertambangan Petikah itu tidak pernah diberi upah. Mereka diberi makan nasi bercampur antah yang sangat banyak. Bahkan biasa pula diberi nasi yang dicampur dengan buah keladi. Sebagai lauknya diberi seekor ikan seukuran dua jari dan daun pakis 3 batang. Makanan yang diberikan itu sangat tidak memadai, sehingga banyak yang jatuh sakit, berak darah dan terkena demam malaria. Kalau ada yang sakit dan tidak bisa bekerja, tentara Jepang memberi obat berupa minyak tanah bercampur sabun. Kalau ada yang tidak bisa bekerja karena sakit, akan dipukuli sampai mati. Sehingga setiap hari banyak orang yang mati karena sakit, kekurangan makanan, dianiaya dan dibunuh. Yang mati dan dibunuh, mayat-mayatnya langsung dikuburkan di bekas-bekas lubang galian yang tidak dipergunakan lagi. Selain di Petikah, masyarakat Kalimantan Barat juga di pekerjakan secara paksa di Suak Garong yaitu di perusahaan kayu Jepang bernama Sumitomo Shokusan Kabushiki Kaisha atau SSKK di Sungai Posong anak Sungai Embuan. Mereka dipaksa bekerja dengan tidak mendapat upah dan tanpa makanan sehingga mereka bekerja dengan perut kosong. Akibat kekejaman Jepang itu maka terbentuklah Angkatan Perang Majang Desa, yang berlanjut dengan pernyataan perang masyarakat pedalaman terhadap Jepang. Pernyataan perang itu ditandai dengan dikirimnya Damak atau Petuong atau Mangkuk Merah atau yang dikenal dengan Bunga Jarao ke seluruh pelosok Kalimantan, khususnya ke pehuluan dan pedalaman mulai dari Tayan, Balai Berkuak, Kualan, Sekadau, Durian Sebatang dan terus ke wilayah Raja Ulu Aek di Laman Sengkuang Ketapang. Sebagai penyampai pengumuman perang Majang Desa terhadap Jepang ini ditugaskan kepada Panglima Kilat. Disebut Panglima Kilat karena memiliki kemampuan bergerak secepat Kilat ke seluruh pelosok pedalaman. Setelah beredarnya petuong atau mangkuk merah sebagai pernyataan perang terhadap Jepang, mulai sore itu selama seminggu datang ribuan rakyat dari berbagai tempat di pedalaman siap berperang. Rapat besar diadakan selama tiga hari di Balai Keramat Tiang Lima Bambu Kuning Suak Tiga Belas Sungai Belansai. Dalam rapat besar tersebut dihasilkan kebulatan tekad bagi semua orang Dayak dimanapun berada untuk berperang melawan Jepang.Angkatan Perang Majang Desa ini selanjutnya berhasil menguasai tangsi-tangsi militer Jepang, dan puncaknya adalah berhasil membebaskan Pontianak dari penguasaan militer Jepang pada tahun 1945.


0 komentar:

Post a Comment