Monday, March 19, 2018

sejarah kerajaan Lawai dalam peradaban suku dayak



sorotborneo

Setelah beberapa bulan menetap di Kampung Kantu’, Babay Cinga’ dan Putri Dara Nante bersama rombongannya kemudian pergi ke Labai Lawai, karena Putri Dara Nante sangat rindu ingin mengunjungi makam Ibundanya di Labai Lawai. Usai mereka berpamitan dengan Dakdudak, mereka langsung pergi ke Labai Lawai menggunakan beberapa buah dedaup dengan menyusuri Sungai Kapuas. Setelah beberapa hari mendayung dedaup, maka tibalah rombongan Babay Cinga’ di Labai Lawai. Di Labai lawai Dedaup-dedaup mereka tidak bisa langsung merapat, karena pada masa tersebut di Labai Lawai ternyata telah ditempati oleh sekelompok masyarakat setelah sekian lama ditinggalkan oleh rombongan Aji Melayu untuk melanjutkan pencarian Kerajaan Tanjung Pura. Mereka mendapat serangan dari masyarakat tersebut yang menyerang mereka dengan sumpit yang sangat membahayakan. Dengan cekatan rombongan Babay Cinga’ segera bertindak. Mereka menyusun strategi agar bisa turun ke daratan. Strategi tersebut berhasil. Babay Cinga’ dan beberapa orang termasuk Manok Sabong berhasil naik ke daratan. Perang sengit antara rombongan Babay Cinga’ dan masyarakat Labai Lawai terjadi. Setelah beberapa saat terjadi pertempuran yang sengit, masyarakat Labai Lawai ini akhirnya dapat mereka taklukkan. Masyarakat Labai Lawai ada yang menyingkir dari Labai Lawai, namun ada pula yang tunduk kepada Babay Cinga’, mereka kemudian bergabung dengan rombongan Babay Cinga’. Setelah situasi dapat mereka kendalikan, semua dedaup rombongan Babay Cinga’ dapat merapat dan mereka turun ke daratan. Dara Nante dan Babay Cinga’ langsung mengunjungi makam Ibunda Dara Nante. Sesuai permintaan Dara Nante, maka rombongan Babay Cinga’ menetap beberapa waktu di Labai Lawai. Mereka membangun pemukiman baru, namun ada juga yang menempati pemukiman milik masyarakat Labai Lawai. Belum lama rombongan Babay Cinga’ bermukim di Labai Lawai, kembali mereka diserang oleh kelompok masyarakat dari wilayah lain. Rupanya beberapa orang yang telah menyingkir dari Labai Lawai, mengumpulkan kelompok masyarakat dari wilayah lain untuk kembali merebut wilayah Labai Lawai dari rombongan Babay Cinga’. Mereka datang dengan jumlah yang lebih banyak dan pertempuran sengit kembali terjadi. Gajah Gemala Johari atau Arya Mada, anak Babay Cinga’ dan Dara Nante juga ikut berperang mempertahankan wilayah Labai Lawai. Bahkan Dara Nante yang pada masa itu sedang mengasuh Arya Batang atau Patee Gumantar juga ikut dalam pertempuran. Arya Batang pada peristiwa tersebut masih bayi, dan diamankan oleh Dara Nante dalam sebuah Jarai atau keranjang yang terbuat dari anyaman tumbuhan. Sambil memanggul Arya Batang di punggungnya, Dara Nante turun ke medan pertempuran membantu suaminya Babay Cinga’ dan pengikutnya mempertahankan Labai Lawai dari serangan musuh. Dengan senjata terhunus, Dara Nante bertempur dengan gesit dan mengalahkan musuh yang menyerang Labai Lawai. Jarai dipunggungnya yang berisi Arya Batang tidak menghambat ketangkasan geraknya dalam bertempur. Bahkan musuh yang menyerangnya dengan sumpit juga dengan lincah dihindarinya. Setelah terjadi pertempuran yang sengit, kelompok musuh yang menyerang akhirnya berhasil ditaklukkan. Namun Babay Cinga’ dan pengikutnya sangat terkejut karena ternyata jarai yang sedang dipanggul Dara Nante telah dipenuhi oleh peluru sumpit. Mereka menjadi histeris dan khawatir jika peluru-peluru sumpit yang beracun itu melukai Arya Batang yang berada di dalam jarai yang di panggul Dara Nante, dengan cepat mereka melepaskan jarai dari tubuh Dara Nante dan membukanya. Ketika membuka dan melihat ke dalam jarai, mereka menjadi sangat kaget dan terheran-heran, karena Arya Batang baik-baik saja. Peluru-peluru sumpit beracun yang terlihat menembus jarai, sedikitpun tidak melukai tubuh Arya Batang. Bahkan terlihat Arya Batang sedang bermain-main dengan mata peluru-peluru sumpit yang telah patah sambil tertawa-tawa. Peluru-peluru sumpit yang beracun itu tidak berpengaruh sedikitpun terhadap tubuh Arya Batang. Setelah melihat Arya Batang baik-baik saja, Babay cinga’ dan Dara Nante serta pengikutnya menjadi lega. Selama menetap di Labai Lawai, beberapa kali pengikut Babay cinga’ mendapatkan serangan dari kelompok masyarakat yang berasal dari wilayah lain. Bahkan beberapa kali juga kelompok perompak berusaha mengusir mereka dari Labai Lawai. Rupanya pada masa tersebut perairan di sekitar wilayah Labai Lawai telah ramai dilewati orang, dan kelompok perompak banyak yang berkeliaran di wilayah perairan itu untuk mencari mangsa, namun semua gangguan dan ancaman tersebut dapat mereka atasi dan taklukkan. Kehebatan Babay Cinga’ beserta pengikutnya ternyata mulai tersebar di sekitar wilayah perairan Labai Lawai, bahkan hingga ke pedalaman. Gangguan perompak yang sangat meresahkan masyarakat pedalaman memaksa mereka untuk mencari tempat perlindungan. Mereka pun berbondong-bondong pergi ke Labai Lawai untuk memohon perlindungan. Melihat begitu banyaknya kelompok masyarakat pedalaman yang datang untuk memohon perlindungan dan ingin bergabung sebagai pengikut, membuat Babay Cinga’ dan Dara Nante berfikir kembali jika hendak meninggalkan Labai Lawai. Selain itu datang juga masyarakat yang ternyata mengenali Babay Cinga’ sebagai Raja Nan Sarunai. Maka diputuskanlah bahwa mereka akan tetap tinggal di Labai Lawai dan akan membangun sebuah Negeri di tempat tersebut. Pada tahun 1325 Masehi, berdirilah Kerajaan Lawai dengan Babay Cinga’ sebagai rajanya yang kemudian bergelar Patee Bacinga’. Selanjutnya Patee Bacinga’ dibantu Dara Nante beserta para pengikutnya membentuk sistim pemerintahan kerajaan yang mirip dengan sistim pemerintahan di Nan Sarunai. Namun dalam sistim pemerintahan Kerajaan Lawai ini dimulai dengan nama penguasa kerajaan yang disebut Raja yang bergelar Patee. Dibawah Patee, terdapat penguasa wilayah yang bergelar Demung atau Demong dan Kiyai. Demung bertanggungjawab terhadap wilayah daratan, dan Kiyai bertanggungjawab terhadap wilayah perairan. Demung dan Kiyai membawahi Tamanggung atau Temenggung, Kanduran dan Rangga. Dalam sistim pertahanan dan keamanan yang bertanggung jawab terhadap pasukan dan prajurit kerajaan, jabatan tertinggi bergelar Cinga’ atau Singa, dan membawahi jabatan Ria, Macan dan Jaga. Anak Patee Bacinga’ yang bernama Gajah Gemala Johari atau Arya Jamban, namun dipanggil Patee Bacinga’ dengan nama Mada atau Arya Mada pada saat itu bertugas dalam jabatan Jaga, sehingga ia mendapat gelar Jaga Mada. Sedangkan pada bidang pengadilan adat dan agama, jabatan tertinggi bergelar Mangku dan membawahi beberapa jabatan yaitu Ngabeh atau Ngabehi ataupun Mas Ngabehi dan Dambung. Setelah terbentuknya sistim pemerintahan kerajaan, maka Kerajaan Lawai mulai mengembangkan diri untuk membangun Labai Lawai menjadi bandar atau pelabuhan perdagangan. Labai Lawai selanjutnya ramai dikunjungi orang dan menjadi sebuah bandar perdagangan yang sangat terkenal.

0 komentar:

Post a Comment